Persimpangan Antara Cerpen dan Catatan Harian

Persimpangan Cerpen dan Catatan Harian

 

Judul : Si Romantik yang Sudah Mati

Penulis : Ashikin M

Penerbit : Roman Buku SDN BHD, Selangor

Cetakan : Pertama

 

Kesan saat pertama kali berjumpa dengan buku ini adalah cukup kesulitan memahami, bukan karena kisahnya yang rumit, tetapi kendala bahasa. Awal mula saya anggap mudah membaca karya sastra Malaysia sebab masih serumpun dengan karya sastra Indonesia. Tetapi saat membacanya baru saya sadar bahwa mengulang-ulang kalimat tertentu itu perlu untuk mendapatkan makna yang logis dan koheren. Belum lagi soal bahasa campuran yang penulis pakai semakin menambah kerumitan dalam mencerna.

Sebelum ejaan yang kita gunakan sekarang, Malaysia sempat menggunakan ejaan yang sama dengan Indonesia, Melindo. Ejaan diresmikan pada akhir 1959, dua tahun sesudah Malaysia merdeka. Melalui sidang perutusan Indonesia, Slamet Mulyana dan Melayu, Syeh Nasir bin Ismail, dihasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Sayang, perkembangan politik pada tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.

Dalam artikel yang ditulis Laila Sari berjudul Yang Mesra, Yang Nyastra, kita diingatkan untuk menengok kiprah dewa kritik Sastra Indonesia Hans Bague Jassin atau H.B. Jassin . Meski sudah diganti EYD, ia masih memperjuangkan diberlakukannya Ejaan Melindo dengan alasan supaya hubungan dua negara ini menjadi lebih intim. Efeknya, “Kita pun dibuat mesam-mesem saat membayangkan betapa Indonesia dan Malaysia mampu berkasih-kasihan, bermesraan, melalui beragam persinggungan nasib, geografi, bahasa, dan sastra. Kedekatan nasib, geografis, dan bahasa pun jadi ramuan ampuh mencipta romantisme.” Tulis Laila.

Saya membayangkan, seandainya negara-negara serumpun ini memakai ejaan yang sama, agaknya kita bisa disandingkan dengan negara-negara Francophone yang mampu menghidup-hidupkan bahasa prancis melalui karya sastra. Karya sastra kita mudah diedarkan ke negara lain, dan kita pun mampu dengan mudah mengenal dan mempelajari karya sastra mereka.

Cerita-cerita pertama dalam buku ini membikin saya menduga bahwa penulisnya bukan hanya mudah berteman saja, bahkan mudah mesra terhadap lawan bicaranya. Dugaan saya dibenarkan oleh cerita berjudul Bipolar. Adegan cemburu yang diperagakan kekasihnya menjelaskan semua itu. Masalah bahwa hatinya mudah sekali ditumbuhi perasaan cinta sebenarnya telah diakuinya sejak awal. Tetapi, ia juga sadar bahwa cinta yang tumbuh pada peristiwa-peristiwa yang dilaluinya dalam cerita hanya akan bertahan sesaat saja.

Di hampir semua ceritanya, Ashikin selalu menjadi pendengar yang baik dari perbincangannya dengan orang-orang berbeda dari banyak negara. Ia bukan seorang wartawan yang mencari tahu informasi karena ada kejadian penting yang menyangkut banyak orang, Ashikin justru mempertanyakan hal remeh yang ternyata mampu diramunya jadi satu judul cerita yang indah.

Sering ditemuinya deskripsi panjang dalam satu judul cerita mungkin dianggap sebagai kekurangan. Deskripsi panjang sering ditemui pada buku catatan harian dan (oto)biografi. Dan ketika kita membaca Si Romantik yang Sudah Mati, barangkali kita bisa menempatkannya pada persimpangan antara cerita pendek dan catatan harian.

Efek dari deskripsi yang panjang adalah pembaca akan merasa bosan terlalu cepat. Sementara itu, kenikmatan membaca sebuah buku cerita biasanya ditentukan oleh konflik dalam cerita. Konflik yang panjang semakin menambah kenikmatan membaca cerita sebagai penuntun menuju klimaksnya.

Si Romantik yang Sudah Mati nikmat dibaca pada suasana yang tenang, tenteram dan damai. Kesederhanaan prosa, keindahan bahasa puisi, akan melatih jiwamu membaca tanda (semiosis) yang ada di sekelilingmu. Dan inilah keunggulan cerita-cerita dalam buku ini. Tabik!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s